Anak Autis, Gejala dan Penyebabnya

Apa itu Autisme?

Autisme adalah istilah umum yang meliputi gangguan mental yang ditandai dengan lambatnya perkembangan mental. Autisme juga merupakan suatu gangguan yang hadir dalam pelbagai tingkatan usia pada anak-anak. Anak-anak dengan autisme memiliki tantangan dalam mempelajari keterampilan dasar seperti berjalan atau makan serta keterampilan bersosialisasi atau berhubungan bahkan dengan keluarga mereka sendiri.

Penyebab Autisme

Penyebab yang pasti dari autisme belum ditemukan. Meskipun demikian, para ahli sudah menemukan hubungan antara autisme dan beberapa faktor termasuk keturunan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap keluarga dengan kasus autisme, jika salah satu dari kembar identik terserang gangguan ini, kemungkinan saudara kembarnya akan terkena juga adalah sampai dengan 90%. Sementara itu, jika salah satu anak terdiagnosis menderita autisme, anak yang kedua akan berpeluang 5% untuk terkena gangguan ini juga.

Bagaimanapun juga, faktor keturunan merupakan hal yang rumit, seperti halnya penyakit itu sendiri. Dalam salah satu penelitian terbaru, ditemukan lebih dari 95 gen yang menjadi penyebab autisme. Namun, gen juga bersifat sangat dinamis. Seperti halnya DNA dan gen yang diturunkan dari generasi ke generasi, keduanya cenderung membawa ciri baru atau gabungan, sehingga bermutasi.

Gejala-gejala Autisme

Tanda-tanda dan gejala-gejala autisme dapat berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain, tetapi tanda dan gejala tersebut biasanya mulai muncul pada usia sekitar sembilan hingga 12 bulan. Anak-anak dengan autisme biasanya akan menunjukkan:

  • Kurang ekspresi wajah (mereka tidak bereaksi terhadap rangsangan apapun)
  • Kurang fokus (mereka tidak dapat menatap mata anda secara langsung)
  • Kurang mampu berinteraksi (mereka tidak bereaksi terhadap mainan dan rangsangan lain yang bagi anak lain menarik)
  • Ketidakmampuan untuk bicara (anak dengan autisme berjuang untuk belajar berbicara bahkan untuk mengungkapkan beberapa kata saja)
  • Lekas marah atau suasana hatinya sering berubah (moody)
  • Kesulitan dalam menerapkan keterampilan dasar termasuk berjalan dan makan
  • Berjuang untuk berinteraksi dengan orang lain, khususnya dengan anak-anak.
  • Kesulitan dalam mempelajari sesuatu, khususnya saatmereka mulai bersekolah.
  • Kekaguman yang berlebih atau obsesi terhadap sesuatu.
  • Gerakan dan/atau kata yang berulang
  • Ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, orang, dan rutinitas yang baru secara mudah.

Anak yang mengalami sindrom autisme biasanya tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain serta memiliki dunianya sendiri. Hal ini menyebabkan banyak orang yang memandang anak autis sebelah mata. Selain itu ada berbagai anggapan lain seperti, vaksin pada anak bisa menyebabkan autisme atau sindrom ini tidak bisa disembuhkan. Kemudian, apakah semua fakta-fakta tersebut benar? Berikut adalah mitos dan fakta terkait sindrom autisme.

3 Fakta Anak Autis

1. Anak laki-laki lebih banyak mengidap autis

Fakta tentang autis yang ketiga ini menemukan bahwa lebih banyak anak laki-laki yang memiliki gangguan spektrum autisme dibanding anak perempuan. Lalu, ditemukan mitos bahwa anak laki-laki dari ras kulit putih lah yang lebih sering mengidap autisme. Namun itu belum terbukti benar. Semua ras, suku dan usia bisa mengidap gangguan spektrum autisme.

2. Anak autis bisa didiagnosis sejak dini

Fakta tentang autis yang pertama ini mungkin cukup mencengangkan. Faktanya, banyak anak-anak yang berusia dibawah usia 18 bulan sudah didiagnosis memiliki gangguan spektrum autisme (ASD) Tetapi sebagian besar kondisi autisme ini juga bisa didiagnosis pada anak yang berusia lebih dari 24 bulan atau 2 tahun.

Alycia Halladay, PhD, kepala staf sains di Autism Science Foundation di New York City, mengatakan bahwa bila anak-anak berusia dua tahun udan  memiliki masalah pada interaksi sosial mereka, dan ini bisa menjadi faktor penentu diagnosis autisme pada anak.

Tidak ada tes medis yang bisa mencari tahu seseorang mengidap autisme atau tidak. Dokter anak biasanya memeriksa perilaku anak melalui perkembangan mereka lalu sembari mengecek lewat tes pendengaran, penglihatan dan neurologisnya untuk mengetahui ada gangguan autis atau tidak pada anak.

3. Vaksin atau imunisasi tidak akan menyebabkan autisme

Banyak mitos lagi yang beredar bahwa autisme disebabkan mendapatkan suntik vaksin atau imunisasi. Namun sayang, hal itu tidak benar. Thimerosal adalah bahan vaksin lain yang pernah meningkatkan risiko autisme.

Pada akhirnya, penelitian tentant bahan vaksin ini dianggap cacat atau tidak valid. Maka tidak ditemukan bukti pasti antara vaksin dan autisme saling berkaitan.  Bahkan, penelitian lanjutan lainnya secara konsisten malah menemukan vaksin untuk aman untuk kesehatan anak, dan tidak ada hubungannya dengan autisme.

3 Mitos Anak Autis

1. Anak autisme tidak bisa merasakan kasih sayang

Anak yang mengalami autisme sama seperti anak yang sehat dan normal, mereka bisa merasakan kasih sayang yang diberikan oleh orang-orang di sekitarnya. Tidak hanya itu, mereka juga bisa merasakan stress, bahkan marah sekali pun. Anggapan bahwa mereka tidak memiliki emosi ini muncul karena anak autis tidak bisa berekspresi seperti anak-anak yang normal. Mereka memiliki caranya tersendiri untuk mengungkapkan perasaannya dan sebagian dari mereka susah untuk mengungkapkannya dalam ekspresi wajah.

2. Autisme bisa disembuhkan

Sampai saat ini belum ada obat yang digunakan untuk menyembuhkan anak autisme. Sindrom autisme adalah kondisi biologis sehingga tidak dapat disembuhkan. Namun hal ini bukan berarti tidak ada penanganan medis yang bisa dilakukan untuk mengurangi gejala serta tanda yang terjadi pada anak autisme.

Anak autisme membutuhkan terapi serta penanganan yang tepat sejak dini, sehingga anak dapat dengan cepat beradaptasi, berkomunikasi lebih baik, serta bersosialisasi dengan teman-temannya. Memang membutuhkan waktu untuk mengubah perilaku serta mengajarkan mereka untuk beradaptasi dengan lingkungannya, namun dengan adanya intervensi yang dilakukan sejak dini dapat efektif membantu kehidupan sosial mereka.

3. Anak Autis tidak bisa berbicara

Sindrom autisme dapat terjadi dengan gejala yang berbeda-beda pada setiap anak. Beberapa anak mungkin mempunyai kesulitan untuk berkomunikasi secara verbal, namun sebagian lagi bisa berbicara dan berkomunikasi walaupun menggunakan kata-kata yang terbatas. Tetapi, sebenarnya semua anak yang mengalami autisme dapat belajar dan berlatih untuk berkomunikasi dan berbicara dengan baik dan benar. Oleh karena itu diperlukan penanganan serta terapi untuk anak autisme.

Semoga Sehat Selalu,

@doktercare

(dn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *