Buta Warna? Bahaya Bisa Permanen!

Apa itu buta warna?

Buta warna adalah suatu keadaan di mana mata seseorang tidak mampu untuk menangkap warna tertentu. Seseorang yang memiliki buta warna akan kesulitan melihat warna merah, hijau, biru atau campuran warna-warna.

Gangguan penglihatan warna dapat mengubah jalan hidup seseorang. Kondisi ini dapat membuat seseorang mengalami kesulitan dalam belajar dan membaca, dan menghalangi seseorang untuk berkarir dalam bidang tertentu.

Apa yang menyebabkan buta warna?

Sebagian besar gangguan penglihatan warna itu bersifat genetik (diturunkan) dan sudah ada sejak lahir.

Seseorang biasanya memiliki tiga jenis sel kerucut di dalam matanya. Setiap jenis sel kerucut mampu mendeteksi salah satu cahaya berwarna merah, hijau, atau biru. Seseorang mampu membedakan warna jika sel-sel kerucut yang ada mampu membedakan perbedaan jumlah atau intensitas dari ketiga warna tersebut. Konsentrasi tertinggi sel kerucut ditemukan pada bagian mata yang disebut makula, yang berada di bagian tengah retina.

Buta warna yang bersifat keturunan terjadi jika seseorang tidak memiliki salah satu jenis sel kerucut atau salah satu jenis sel kerucut yang ada tidak dapat berfungsi secara optimal. Orang tersebut mungkin tidak akan mampu mengenali salah satu warna tersebut, atau mengenali warna tersebut sebagai warna lain. Buta warna yang diturunkan ini bersifat menetap seumur hidup.

Penyebab Lain Buta Warna

Masalah penglihatan warna atau buta warna tidak selalu diwariskan. Dalam beberapa kasus, seseorang dapat memiliki masalah buta warna karena didapatkan tiba-tiba dalam perjalanan hidupnya. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal. Adapun penyebab buta warna selain dari faktor genetik adalah:

  • Penyakit. Terdapat sejumlah penyakit yang bisa menyebabkan buta warna, seperti penyakit Parkinson, penyakit Alzheimer, glaukoma, kanker darah (leukemia), diabetes, pecandu minuman beralkohol kronis, degenerasi makula, dan anemia sel sabit.
  • Usia. Kemampuan seseorang untuk membedakan warna perlahan-lahan akan berkurang seiring pertambahan usia. Ini adalah hal yang alami dalam proses penuaan dan tidak perlu dicemaskan secara berlebihan.
  • Bahan kimia. Seseorang bisa mengalami buta warna jika terpapar bahan kimia beracun, misalnya di tempat kerja, seperti karbon disulfida dan pupuk.
  • Efek samping pengobatan tertentu. Beberapa pengobatan berpotensi menyebabkan buta warna, seperti digoxin, phenytoin, klorokuin, dan sildenafil. Jika gangguan disebabkan oleh pengobatan, biasanya pandangan akan kembali normal setelah berhenti mengonsumsi obat.

Cara Mengobati Buta Warna

Buta warna yang diwarisi tidak dapat diobati atau diperbaiki. Untuk jenis yang paling sering dari penyakit buta warna ini adalah merah-hijau. Tidak ada penanganan yang diperlukan, karena mata berfungsi secara normal untuk melihat. Seseorang justru mungkin tidak menyadari bahwa buta warna jika hanya warna merah atau hijau, kecuali ada suatu kesempatan yang menyadarkan dirinya bahwa warna yang dilihat berbeda dari oleh orang lain.

Buta warna yang bukan diwariskan dapat diobati, tergantung pada penyebabnya. Sebagai contoh, jika katarak yang menyebabkan masalah dengan penglihatan warna, operasi untuk mengangkat katarak dapat mengembalikan penglihatan warna normal.

Anda dapat menemukan cara untuk membantu menyembuhkan masalah penglihatan warna. Berikut adalah cara mengobat buta warna:

1. Memakai lensa kontak berwarna. Ini dapat membantu Anda melihat perbedaan antara warna. Tapi lensa ini tidak memberikan penglihatan warna normal dan dapat mendistorsi objek.

2. Memakai kacamata anti-ultraviolet. Orang dengan masalah penglihatan warna yang parah bisa melihat perbedaan antara warna yang lebih baik ketika cahaya lebih redup atau tidak silau.

3. Belajar untuk mencari isyarat terang-gelap atau peletakkan barang bukan dari warna. Sebagai contoh, Anda dapat mempelajari urutan tiga lampu berwarna pada lalu lintas. Merah itu di atas, kuning itu di tengah, hijau itu di bawah. Dengan begitu penderita buta warna tidak kesulitan untuk berada di jalan raya.

Semoga sehat selalu,

@doktercare

(dn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *