Epilepsi, Apa dan Bagaimana? Yuk Cari Tahu Disini

Pengertian Epilepsi

Penyakit epilepsi atau ayan adalah gangguan sistem saraf pusat akibat pola aktivitas listrik otak yang tidak normal, sehingga menimbulkan keluhan kejang, sensasi dan perilaku yang tidak biasa, hingga hilang kesadaran. Gangguan pada pola aktivitas listrik otak saraf dapat terjadi karena kelainan pada jaringan otak, ketidakseimbangan zat kimia di dalam otak, atau kombinasi dari beberapa faktor penyebab tersebut.

Kejang merupakan gejala  utama penyakit epilepsi yang terjadi saat timbul impuls listrik pada otak melebihi batas normal. Kondisi tersebut menyebar ke area sekelilingnya, dan menimbulkan sinyal listrik yang tidak terkendali. Sinyal tersebut terkirim juga pada otot, sehingga menimbulkan kedutan hingga kejang.

Epilepsi bisa dialami pada semua usia, baik wanita atau pria, namun umumnya epilepsi bermula pada usia anak-anak, atau malah mulai pada saat usia lebih dari 60 tahun. Di dunia, epilepsi merupakan penyakit saraf yang paling banyak terjadi. Berdasarkan data WHO tahun 2018, sekitar 50 juta penduduk di dunia mengalami gangguan ini.

Gejala Epilepsi

Pada kejang parsial atau fokal, otak yang mengalami gangguan hanya sebagian saja. Kejang parsial ini dibagi lagi menjadi dua kategori, yaitu kejang parsial sederhana (aura) dan kejang parsial kompleks. Kejang parsial sederhana terjadi dalam kondisi sadar dengan gejala:

  • Timbul perasaan aneh yang sulit digambarkan
  • Mencium atau merasakan sesuatu yang tidak biasa
  • Lengan dan tungkai kesemutan
  • Perasaan gembira yang muncul seketika
  • Bagian tubuh, seperti tangan, menjadi kaku atau berkedut
  • Pusing
  • Mata seperti melihat kerlipan cahaya.

Kejang parsial sederhana atau aura ini terkadang hanya sebuah tanda bahwa kejang tipe lain akan muncul.

Sedangkan kejang parsial kompleks adalah kejang yang melibatkan penurunan kesadaran. Kejang ini biasanya muncul dari bagian otak yang disebut lobus temporal. Gejala yang muncul dapat berupa memandang dengan tatapan kosong, tidak merespons keadaan di sekeliling, serta melakukan gerakan secara berulang, seperti menggosok-gosok tangan, menelan, atau berputar-putar.

Kondisi kejang dari epilepsi yang paling parah adalah status epileptikus, di mana kejang berlangsung lama, atau kejang berulang dan kesadaran penderita tidak pulih di antara waktu kejang. Kondisi tersebut adalah kondisi gawat darurat dan membutuhkan penanganan medis secepatnya.

Penyebab Epilepsi

Pada sebagian besar kasus epilepsi, penyebab pastinya tidak dapat ditemukan. Epilepsi jenis ini dikenal sebagai epilepsi idiopatik. Tidak dapat dipastikan bagaimana epilepsi bermula atau berlanjut pada kasus ini, karena tidak ditemukan kelainan yang dapat menyebabkan epilepsi.

Berbeda dengan epilepsi idiopatik, epilepsi simptomatik merupakan jenis epilepsi yang penyebabnya bisa diketahui. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan epilepsi simptomatik, di antaranya adalah:

  • Cedera kepala
  • Stroke
  • Tumor otak
  • Infeksi, contohnya meningitis atau ensefalitis
  • Cedera atau kerusakan otak saat masih di dalam kandungan, akibat infeksi atau nutrisi yang buruk pada saat kehamilan
  • Gangguan perkembangan, contohnya penyakit autisme dan neurofibromatosis
  • Kelainan genetik.

Pada penderita epilepsi, terdapat beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya kejang. Di antaranya adalah:

  • Lelah atau kurang tidur.
  • Stres
  • Tidak mengonsumsi obat antikonvulsan atau antiepilepsi secara teratur.
  • Mengonsumsi obat yang mengganggu kinerja obat antiepilepsi
  • Melewatkan jam makan
  • Demam tinggi
  • Mengonsumsi minuman beralkohol atau NAPZA
  • Saat menstruasi (pada wanita)
  • Mengonsumsi obat antidepresan atau antipsikotik  tertentu
  • Kilatan cahaya.

Pengobatan Epilepsi

Penyakit epilepsi tidak dapat disembuhkan. Kendati demikian, pemberian obat secara tepat dapat menstabilkan aktivitas listrik dalam otak, serta dapat mengendalikan kejang pada penderita epilepsi. Dalam meresepkan obat, dokter perlu mempertimbangkan usia, jenis kejang, kondisi pasien, serta obat-obatan lain yang dikonsumsi pasien.

Obat yang diresepkan dokter adalah obat antikejang (antikonvulsan), atau dikenal juga dengan obat Obat jenis ini dapat mengubah cara kerja dan pengiriman sinyal atau pesan dari sel otak. Contoh obat antiepilepsi adalah asam valproatcarbamazepine, lamotrigine, levetiracetam, dan topiramate.

Pemberian obat antiepilepsi diawali dengan dosis yang rendah, lalu dosis akan diitingkatkan secara perlahan. Untuk memantau respons tubuh terhadap pemberian obat, pasien perlu memeriksakan darahnya sebelum dan selama mengonsumsi obat. Di sisi lain, obat antiepilepsi juga dapat berinteraksi dengan pil KB. Oleh karena itu, dokter perlu menyesuaikan alat kontrasepsi yang dibutuhkan.

 

Semoga sehat selalu,

@doktercare

(dn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *