Ini Beberapa Gangguan Jiwa Yang JOKER Derita, Kamu Juga?

“Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti.”

Quotes sejuta umat, yang akhir-akhir ini diduga mampu mewakili perasaan siapapun yang sedang mengalami luka dalam hati karena merasa tersakiti setelah melakukan segala sesuatu yang baik menurutnya.

Lahir dari segala usaha yang tidak pernah dihargai, berdasarkan pendapat beberapa.

Quotes yang disampaikan oleh JOKER, si Arthur Fleck ini mampu menyentuh emosi beberapa penontonya dari sedang hingga dalam.

Sudahkah pembaca menonton Film atau trailernya?

Pada scene pertama penonton akan disuguhkan dengan pemandangan yang sudah mampu menyentuh emosi kita, dimana Arthur menunjukan ekspresi wajah tersenyum dengan memaksa lekukan mulutnya melengkung keatas dengan kedua jari, berpadu dengan tetesan air mata  pada akhirnya.

Belum lagi selanjutnya, emosi penonton akan di obrak-abrik lagi dengan disuguhkanya  kondisi penyakit mental yang dialami oleh Arthur, yang cukup menyakitkan dan menimbulkan empati ketika melihatnya.

Gangguan tertawa yang sulit dikendalikan, disertai tubuh kurus yang begitu menyedihkan, ditambah dengan kisah hidup yang tidak diijinkan bahagia semenitpun dari sudut pandangnya, menambah penderitaan dan memperparah kondisi mentalnya.

Masa kecil yang mengerikan, alami kekerasan yang menyebabkan gangguan saraf di otaknya, dengan seorang ibu yang menderita gangguan mental juga (gangguan delusional), menyebabkan penyakit yang dialami JOKER semakin parah.

Dengan acting yang luar biasa dari Joaquin Phoenix penonton terbawa dalam perasaan depresi dirasakan Arthur ini.

Penyakit Mental Apa Saja Yang diderita JOKER?

 Mengidap Pseudobulbar Affect (PBA)

Pseudobulbar Affect (PBA) merupakan penyakit mental dimana penderita kerap mengeluarkan ekspresi yang berbeda dengan perasaan yang dirasakan sebenarnya.

Mengutip dari Mayo Clinic, bahkan mereka akan tertawa sampai beberapa menit, setiap kali merasa sedih atau gugup. Hal yang sama dialami oleh Arthur Fleck dalam Film Joker, dimana beberapa kali dia bersusah payah mengendalikan tawanya ketika mengalami kegugupan ataupun sesuatu yang menyakiti hatinya. Disaat kondisi normal seseorang menangis ketika bersedih, namun Arthur tertawa!

Cukup menyedihkan bukan?

Hingga dia harus membawa sebuah kartu yang bertuliskan informasi kepada semua orang berisi keterangan gangguan mental PBA yang diderita agar orang-orang mengerti ketika tiba-tiba dia tertawa lepas kendali.

Kecenderungan yang aneh itu terjadi karena rusaknya saraf pada korteks prefrontal. Prefrontal merupakan area otak yang bertugas mengontrol emosi. Karena sistem kontrolnya terganggu, pengidap bisa tiba-tiba tertawa atau menangis dalam kondisi yang tidak sepatutnya.

Tak heran jika kebanyakan pengidap PBA, memilih untuk menjadi anti sosial. Lantaran malu dengan reaksi tak terkendali yang mereka alami.

Dengan kondisi seperti ini, mereka pun harus berjuang dua kali; mengatasi penyakit mereka, sekaligus mencoba tetap menjadi ‘orang normal’ dalam pergaulan sosial.

Dalam hal ini Arthur gagal, karena tidak adanya dukungan siapapun dari pihaknya!

“Selama hidupku aku tidak tahu apakah aku benar-benar ada, tapi nyatanya aku ada, dan orang-orang mulai memperhatikan.” – Arthur Fleck.

Perlu pembaca ketahui PBA cenderung menjangkit pada beberapa orang yang pernah mengalami trauma otak di masa lalunya, seperti trauma yang dialami Arthur di masa kecilnya.

 

JOKER Juga Mengidap SKIZOFRENIA!

Dalam film di perlihatkan bahwa Arthur Fleck kerap kali berdelusi, mulai dari mengencani wanita (tetangga apartement nya) yang bernama Sophie, lalu menganggap dirinya anak dari tokoh masyarakat Thomas Wayne yang terbuang, menjadi komika sukses hingga kenal baik dengan selebriti Murray Franklin. Sulit membedakan antara realita dengan khayalan semata.

Sebuah ciri yang menunjukan bahwa karakter Arthur mengalami jenis skizofrenia dalam waham kebesaran (grandiose), dengan tanda penderita skizofrenia dengan delusi (grandiose) merasa punya kekuasaan, identitas, kecerdasan yang sangat tinggi, merasa dirinya berbakat. Serta penderita sering berkhayal memiliki hubungan khusus dengan tokoh publik hebat,.

 

Seperti yang Arthur alami bukan?

 

Apakah Penyebab SKIZOFRENIA?

Sayangnya, penyebab pasti skizofrenia belum ditemukan. Namun, sebagian besar ahli meyakini bahwa terdapat kombinasi faktor yang mungkin dapat menimbulkan resiko seseorang mengalami gangguan ini. Faktor – faktor ini adalah kimiawi otak (fisik), faktor genetik, psikologis, dan lingkungan.

·         Genetika

Studi mengenai riwayat genetik pada saudara kembar dan keluarga telah menemukan bahwa seseorang yang memiliki kerabat langsung (orang tua, saudara kandung, atau anak) dengan gangguan skizofrenia, maka ia akan memiliki resiko (kerentanan) lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang sama.

Pada kembar identik, jika satu mengalami skizofrenia, makan kembar lainnya memiliki resiko (kerentanan) lebih besar (1 : 2) untuk mengalami gangguan ini pula, bahkan jika mereka dibesarkan secara terpisah.

Pada kembar yang tidak identik, ketika satu kembar mengalami skizofrenia, yang lain hanya memiliki resiko (kerentanan) sebesar 1 : 7 untuk mengalami kondisi serupa.

·         Kimiawi otak

Penelitian yang mempelajari otak telah menemukan adanya perbedaan struktur otak pada penderita skizofrenia dan non-skizofrenia.

Beberapa penelitian mengatakan bahwa skizofrenia mungkin disebabkan oleh perubahan tingkat dua neurotransmiter (kimiawi yang membawa pesan antar sel otak), yaitu dopamin dan serotonin.

Penelitian tersebut juga mengatakan bahwa ketidakseimbangan antara keduanya dapat menjadi salah satu faktor penyebab gangguan ini.

·         Skizofrenia dapat dipicu oleh pengalaman traumatis

Jika kamu sudah menonton film Joker dan mengetahui perjalanan kelamnya, kamu mungkin sudah sedikit mengetahui pemicu munculnya gangguan skizofrenia pada Joker. Ya, kegagalannya untuk menjadi komedian sukses, dan pengabaian dari masyarakat dapat menjadi pemicu munculnya gangguan ini.

Adapun, hal-hal yang biasanya menjadi  pemicu gangguan mental diantaranya adalah pengalaman kehilangan orang tersayang, pekerjaan atau harta, perceraian, atau penganiayaan fisik, seksual atau emosional.

Pengalaman-pengalaman semacam ini, meskipun membuat stres,  tidak selalu menyebabkan skizofrenia. Namun, mereka dapat memicu perkembangan skizofrenia pada seseorang yang sudah rentan terhadapnya.

·         Penyalahgunaan narkoba

Obat-obatan tidak secara langsung menyebabkan skizofrenia, tetapi penelitian menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkoba meningkatkan risiko skizofrenia atau gangguan mental serupa.

Obat-obatan tertentu, khususnya ganja, kokain, LSD atau amfetamin, dapat memicu gejala skizofrenia pada orang yang rentan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa remaja di bawah 15 tahun yang menggunakan ganja secara teratur, akan memiliki kemungkinan empat kali lebih besar untuk mengalami skizofrenia pada usia 26 tahun.

 

Mulailah perduli dengan orang-orang disekitar kita, bukan berdasarkan pada status sosial atau penampilan dan jabatan yang dimiliki saja, karena Sang Pencipta ciptakan semua manusia berharga.

Belum lagi kesadaran akan kesehatan mental yang begitu rendah. Menghakimi seseorang yang menderita gangguan mental sama dengan gila, sehingga membuat beberapa malu dan enggan untuk speak up ketika mereka butuh bantuan untuk mengatasinya. Hingga gangguan menjadi lebih parah?

Seperti yang Arthur sampaikan dalam JOKER, yang cukup menampar realita kehidupan sosial kita,

The worst part about having a mental illness is people expect you to behave as if you DONT”.

Mereka hanya butuh BANTUAN!

Berhenti membuat kehidupan sosial masyarakat semakin sakit, dengan terus-terusan menyebar sampah dimana-mana. Karena sebenarnya tidak ada orang jahat di dunia ini, adanya beberapa orang yang tidak diperdulikan hingga berkesimpulan untuk melakukan tindak kejahatan agar mendapat perhatian.

Mari ciptakan JOKER yang positif dalam kehidupan kita, dimana tertawa karena memang alasan sepatutnya, bukan tertawa karena gangguan jiwa.

 

“is it just me or is it getting crazier out there?” – Arthur Fleck 

 

 

Semoga selalu sehat 🙂

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *