Kulit Kemerahan dan Gatal-gatal Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Alergi!

Alergi susu adalah suatu reaksi ketidak-tahanan tubuh terhadap satu atau lebih protein susu.

Pada beberapa anak, mengonsumsi susu dapat memicu badan untuk mengeluarkan reaksi kekebalan tubuh yang tidak tepat terhadap protein-protein di dalam susu,yang mengakibatkan suatu reaksi alergi.

Alergi susu adalah sebuah bentuk respons alami dari sistem kekebalan tubuh terhadap susu dan produk lain yang memiliki kandungan susu di dalamnya. Reaksi tubuh yang tidak normal ini adalah salah satu jenis alergi makanan yang paling banyak dialami oleh anak-anak, khususnya ketika mereka mulai mengonsumsi susu sapi.

Selain susu sapi, susu yang berasal dari kambing, domba, dan hewan menyusui lainnya juga dapat menyebabkan reaksi alergi susu. Reaksi alergi biasanya muncul beberapa menit hingga beberapa jam setelah zat alergen (susu) dikonsumsi. Reaksi alergi tersebut dapat berupa muntah, napas yang berbunyi (mengi), ruam gatal, dan gangguan pencernaan.

Jika Anda memberikan susu sapi pada bayi Anda dan kemudian ia mengalami kemerahan atau gatal-gatal, mungkin saja ia memiliki alergi terhadap susu sapi. Alergi yang muncul setelah mengonsumsi susu sapi memang merupakan hal yang jarang, hanya terjadi 2 hingga 7 persen bayi. Hal ini terjadi akibat sistem kekebalan tubuh bayi yang bereaksi dengan protein yang ada di dalam susu sapi. Sebagian besar bayi yang mengalami alergi susu sapi, biasanya bisa mengatasi hal tersebut setelah mereka melewati usia 4 tahun, dan hanya sedikit yang alerginya bertahan hingga dewasa.

Apakah alergi bisa muncul saat sudah dewasa?

Ya, alergi bisa muncul kapan saja. Tidak hanya pada saat Anda masih kecil, tetapi juga bisa muncul saat Anda sudah dewasa. Di usia berapa pun, Anda bisa menunjukkan reaksi alergi pertama kali, seperti diare setelah minum susu sapi, gatal-gatal, kulit kemerahan, bengkak, muntah, dan masih banyak lagi. Saat pertama kali Anda mengalami gejala tersebut mungkin Anda masih bingung karena sebelumnya Anda tidak mempunyai masalah dengan alergi. Tapi, alergi yang baru muncul saat sudah dewasa memang bisa terjadi.

Alergi bisa terjadi karena sistem kekebalan tubuh Anda menganggap ada sesuatu yang berbahaya yang masuk ke tubuh Anda. Sistem kekebalan tubuh kemudian akan memunculkan reaksi terhadap alergen (senyawa yang menyebabkan alergi). Reaksi mungkin tidak langsung muncul pada saat pertama kali Anda terpapar alergen. Reaksi bisa muncul saat Anda sudah berkali-kali terpapar alergen, sehingga gejala alergi baru muncul pada saat Anda sudah dewasa. Gejala alergi bisa muncul dalam rentang ringan sampai parah dan butuh perhatian khusus. Faktor keturunan dan juga lingkungan bisa berkaitan dengan alergi yang Anda miliki.

Mengapa seorang anak bisa alergi susu?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, alergi terjadi akibat reaksi terhadap sistem kekebalan tubuh. Ketika bayi mengonsumsi susu yang menyebabkan alergi, maka sistem kekebalan tubuhnya akan menandai atau menanggapi protein yang masuk ke dalam tubuh sebagai zat yang berbahaya. Tubuh akan langsung menghasilkan imunoglobulin E (IgE), yaitu antibodi yang berfungsi untuk menangani alergi yang terjadi di dalam tubuh. Saat bayi mengonsumsi susu beberapa kali, maka IgE sudah mengenali protein yang dianggap berbahaya tersebut sehingga memberikan sinyal ada tubuh untuk mengeluarkan histamin dan berbagai zat kimia lain yang dapat menimbulkan gatal-gatal, kemerahan pada kulit, dan berbagai gejala yang telah disebutkan sebelumnya.

Alergi Susu? Jangan Khawatir! Siasati Nutrisinya dengan Cara Ini

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang tidak mengonsumsi susu sapi cenderung mengalami kekurangan vitamin D. Tapi Anda tidak perlu khawatir, karena itu bisa disiasati dengan memberikan makanan yang kaya akan vitamin D, serta mengandung kalsium dan protein. Makanan yang kaya akan vitamin D antara lain adalah bayam, brokoli, produk olahan kedelai, ikan salmon, tuna, sarden, dan telur.

Selain itu, Anda juga bisa mengajak anak bermain di luar ruangan pada pagi hari, agar terkena paparan sinar matahari. Pada saat terpapar sinar ultraviolet B (UVB), tubuh anak Anda akan membentuk vitamin D. Namun, perhatikan juga berapa lama dan kapan saat yang tepat terkena paparan matahari. Dengan hanya terpapar sinar matahari pagi selama 10-15 menit, sebanyak tiga kali seminggu, sudah cukup untuk membuat anak Anda mendapatkan cukup vitamin D.

Sekalipun anak didiagnosis memiliki alergi susu sapi, janganlah menyerah dalam memenuhi nutrisi yang dibutuhkannya. Cobalah untuk lebih kreatif dalam memberikan alternatif atau makanan pengganti, agar pertumbuhan dan kesehatan anak tetap terjaga. Jika perlu, konsultasi ke dokter untuk penanganan yang tepat.

Semoga Sehat Selalu,

@doktercare

(dn)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *