Main Games Tingkatkan Resiko ADHD Pada Anak! Benarkah?

Apa hubungan game dengan ADHD pada anak?

David Anderson, Ph.D., seorang psikolog klinis di Child Mind Institute menerangkan bahwa sampai saat ini belum ada bukti kuat yang dapat memastikan kalau kecanduan main game bisa menimbulkan ADHD pada anak. Namun, anak-anak yang gemar bermain game berisiko tinggi untuk mengembangkan gejala ADHD beberapa tahun kemudian.

Bermain permainan apa pun, termasuk game, memang membutuhkan keterampilan dan fokus yang tinggi. Hal inilah yang kadang tanpa sadar memicu perubahan dalam otak anak, sehingga permainan tersebut seolah-olah hadir dalam kehidupannya secara nyata.

“Seorang anak yang mengalami ADHD umumnya gampang bosan dan hilang fokus terhadap sesuatu yang sedang ditekuninya,” tutur David Anderson lebih jauh. Secara tidak langsung, anak mungkin saja meluapkan hal yang tidak bisa ia capai dalam permainannya, ke dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam caranya berperilaku dan berkomunikasi dengan orang lain.

Hal ini turut diperkuat oleh hasil sebuah penelitian dalam Journal of American Medical Association (JAMA). Menurut Adam Leventhal, Ph.D., selaku dosen psikologi di University of Southern California, anak-anak penggemar berat gadget apa pun punya risiko dua kali lebih besar mengalami ADHD di kemudian hari. Khususnya anak yang hobi bermain game — entah itu game konsol, game di komputer, maupun game online yang ada di HP.

Efek Kecanduan Main Game

Efek dari kecanduan main game tidak hanya berisiko dialami oleh anak tanpa ADHD. Kondisi anak yang sebelumnya telah didiagnosis memiliki ADHD pun bisa semakin parah, ketika frekuensi bermain video game-nya tidak terkontrol.

Berbeda dengan teman-teman sebayanya, ADHD pada anak akan membuatnya bermasalah dengan perhatian. Mereka cenderung sulit memfokuskan pikirannya sendiri.

Dibandingkan dengan saat belajar di kelas yang hanya mengandalkan suara dari guru, pikiran anak dengan ADHD jauh lebih mudah terpusat ketika sedang berkonsentrasi memenangkan suatu permainan. Pasalnya, permainan turut melibatkan berbagai efek khusus seperti bantuan dari musik, pencahayaan, dan visual yang tampak menarik.

Sensasi ini akan semakin menjadi-jadi saat usaha anak tersebut berbuah manis karena berhasil memenangkan permainan favoritnya. Sebaliknya, kekalahan dalam permainan justru bisa membuat anak hilang fokus dan melampiaskannya melalui tindakan dengan orang lain di lingkungan sekitar. Ini biasanya karena anak yang mengalami ADHD masih harus berlatih dalam mengendalikan perhatian mereka.

Bahkan, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Douglas A. Gentile, Ph.D. di Singapura menyimpulkan bahwa permainan dengan tingkat kesulitan yang tinggi bisa membuat seorang anak mudah bertindak sesuka hati dan susah berkonsentrasi.

Apa yang harus dilakukan orang tua?

Sebenarnya sah-sah saja untuk membiarkan anak bermain game, karena toh kemampuan motorik, berpikir, dan emosional anak akan ikut terlatih. “Namun, tentu saja melakukan apa pun secara berlebihan bisa membawa dampak buruk yang tidak Anda harapkan,” tutur dr. Eugene Arnold, psikiater anak di Ohio State University, Amerika Serikat.

Sudah seharusnya dibatasi, selagi masih ada waktu dan belum terlambat, kini peran orang tua yang harus mengawasi anak mereka agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sebagai solusinya, beri batasan terhadap kebiasaan anak saat bermain game. Jangan ragu untuk mengatakan, “Kamu boleh main, tapi sebentar saja, satu jam saja, ya!”

Awalnya mungkin cukup sulit untuk menerapkan hal ini, bahkan tak jarang anak malah akan tampak tidak terima dengan peraturan yang Anda berikan.

Jika ini terjadi, coba berikan pengertian pada anak atau ajak ia berdiskusi dan membuat keputusan bersama. Paling tidak, berikan jeda waktu di sela-sela kesibukannya bermain game dan jangan biarkan kebiasaan ini berlanjut terus setiap hari tanpa henti.

Semoga sehat selalu,

@doktercare

(dn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *