Sulit Tidur? Kenali Insomnia!

Apa Itu Insomnia?

Insomnia adalah gangguan tidur yang menyebabkan penderitanya sulit tidur, atau tidak cukup tidur, meskipun terdapat cukup waktu untuk melakukannya. Gangguan tersebut menyebabkan kondisi penderita tidak prima untuk melakukan aktivitas keesokan harinya.

Kualitas dan kuantitas tidur memengaruhi kualitas hidup, serta kesehatan seseorang secara keseluruhan. Tidur yang tidak cukup akan menimbulkan gangguan fisik dan mental. Pada umumnya, butuh 8 jam tidur dalam sehari untuk menjaga kondisi tubuh tetap fit.

Terdapat dua tipe insomnia yaitu insomnia primer dan insomnia sekunder. Insomnia primer adalah insomnia yang tidak terkait dengan kondisi medis lain. Sedangkan insomnia sekunder adalah insomnia yang disebabkan oleh gangguan kesehatan lain, misalnya radang sendi, asma, depresi, kanker, atau refluks asam lambung (GERD). Insomnia sekunder juga dapat disebabkan oleh konsumsi obat-obatan atau alkohol.

Apa Saja Gejala Insomnia?

Gejala insomnia cukup beragam, dan dapat berlangsung dalam hitungan bulan bahkan tahun. Pada umumnya, penderita insomnia mengalami sulit tidur atau sering terbangun di malam hari, bangun terlalu dini di pagi hari, dan tidur yang terasa tidak nyenyak atau tidak cukup. Sejumlah gejala tersebut dapat memicu gejala lain, seperti mengantuk atau lelah di siang hari, mudah marah dan depresi, serta sulit fokus dalam beraktivitas.

Insomnia dapat berlangsung singkat (akut), atau terjadi dalam jangka panjang (kronis). Insomnia akut berlangsung satu malam hingga beberapa minggu. Sedangkan insomnia kronis terjadi sedikitnya 3 malam dalam sepekan, dan berlangsung dalam hitungan bulan.

Apa Saja Penyebab Amnesia?

Insomnia dapat disebabkan oleh banyak hal. Salah satu penyebab insomnia adalah hal yang memicu stress. Misalnya karena terlalu memikirkan pekerjaan, kondisi kesehatan, atau keuangan. Stres juga bisa disebabkan oleh peristiwa duka, seperti sakit atau kematian yang menimpa pasangan maupun keluarga dekat.

Hal lain yang dapat menyebabkan insomnia meliputi:

  • Gangguan psikologi, antara lain:
    • Gangguan kecemasan, seperti panik dan gangguan stres pasca trauma (PTSD) .
    • Gangguan psikosis, misalnya skizofrenia.
    • Gangguan suasana hati, seperti depresi atau gangguan bipolar.
  • Gangguan kesehatan, di antaranya:
    • Gangguan hormon, misalnya hipertiroidisme .
    • Gangguan jantung, seperti gagal jantung dan angina.
    • Gangguan otot dan sendi, misalnya radang sendi (artritis).
    • Gangguan pada organ kemih, seperti pembesaran prostat atau inkontinensia urine.
    • Gangguan pencernaan, misalnya GERD
    • Gangguan pernapasan, seperti asma dan penyakit paru obstruktid kronis.
    • Gangguan saraf, seperti penyakit Parkinson atau Alzheimer.
    • Gangguan tidur, seperti restless leg syndrome, sleep apnea,dan narkolepsi.
    • Diabetes.
    • Kanker.
  • Gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, menyalahgunakan NAPZA, dan mengonsumsi minuman beralkohol atau berkafein secara berlebihan.
  • Obat-obatan, meliputi:
    • Antidepresan, seperti fluoxetine dan
    • Obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen.
    • Obat asma, seperti salbutamolsalmeterol, dan teofilin.
    • Obat anti kejang.
    • Obat stimulan, misalnya methylphenidate untuk menangani gangguan hiperaktif (ADHD) atau modafinil untuk menangani narkolepsi.
    • Obat tekanan darah tinggi, seperti penghambat beta.
  • Faktor lingkunganseperti suara bising, lampu yang terlalu terang, serta suhu yang terlalu dingin atau terlalu panas, sehingga dapat mengganggu tidur.

Komplikasi Insomnia

Kualitas dan kuantitas tidur yang cukup, sangat penting bagi kesehatan fisik serta mental. Oleh karena itu, kualitas hidup penderita insomnia umumnya menurun, disebabkan oleh kurangnya konsentrasi saat beraktivitas. Risiko kecelakaan juga meningkat, akibat kurang fokus dalam berkendara. Selain itu, insomnia juga dapat memengaruhi daya ingat dan gairah seks penderitanya.

Komplikasi lain yang dapat terjadi pada penderita insomnia antara lain:

  • Gangguan fisik – asma, berat badan berlebih,diabetes, kejang, penyakit jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi.
  • Gangguan mental – depresi, frustrasi, dan kecemasan.

Pengobatan Insomnia

Langkah pertama untuk mengobati insomnia adalah mencari tahu dan mengatasi akar penyebabnya. Bila pasien tetap mengalami insomnia meski penyebabnya telah diatasi, dokter akan menyarankan pasien menjalani terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I). Pasien juga bisa diterapi dengan obat-obatan, atau kombinasi antara obat dan CBT-I.

CBT-I bertujuan membantu pasien insomnia mengubah pikiran dan perilaku negatif yang membuat pasien susah tidur. Terapi ini adalah pilihan utama untuk mengobati pasien insomnia, karena lebih efektif dibanding obat-obatan. Sejumlah metode dalam CBT-I antara lain:

  • Pembatasan waktu tidur. Pasien akan diminta menghindari tidur siang, agar waktu tidur di malam hari dapat meningkat secara bertahap.
  • Teknik relaksasi. Pasien akan diajari cara mengontrol napas, guna mengurangi kecemasan tidak bisa tidur.
  • Terapi kontrol stimulus. Pasien akan dilatih untuk hanya menggunakan kamar tidur untuk tidur atau berhubungan seks. Pasien juga dianjurkan meninggalkan kamar tidur bila tidak bisa tidur dalam 20 menit, dan hanya kembali bila sudah mengantuk.
  • Paradoxical intention. Terapi ini bertujuan mengurangi rasa cemas dan khawatir tidak bisa tidur, justru dengan cara tetap terbangun di tempat tidur dan tidak berharap untuk tertidur.
  • Fototerapi. Fototerapi bertujuan menormalkan jam tidur, pada pasien yang tidur terlalu cepat di malam hari, dan bangun terlalu dini di pagi hari. Dalam fototerapi, pasien akan disinari dengan sinar UV selama 30-40 menit setelah bangun tidur.

Metode lain untuk mengatasi insomnia adalah dengan obat tidur. Umumnya dokter tidak menyarankan penggunaan obat tidur lebih dari beberapa minggu. Beberapa jenis obat yang umumnya diresepkan dokter untuk menangani insomnia, antara lain zolpidem.

Perlu diketahui, obat tidur dapat menimbulkan efek samping pusing, serta bisa meningkatkan risiko pingsan. Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan obat tidur untuk insomnia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *