Tumor Otak, Masihkah Ada Harapan Hidup?

Kanker.

 

Tumor.

 

Sekali mendengarnya, seolah-olah harapan hidup anjlok begitu saja.

Seperti sniper yang mengintai tubuh kita, entah mana yang akan dibidik olehnya, kemudian ditembak dan rusak! Hingga mati.

Otak, Hati, Paru-paru, sampai organ pencernaan, berpotensi menjadi sasaranya.

TUMOR OTAK.

Salah satu jenis tumor dengan angka harapan hidup tipis bagi penderitanya.

Seperti yang terjadi pada seorang public figure Indonesia, Agung Hercules.

Tumor otak, glioblastoma seolah-olah melepaskan gambaran atletis, badan kekar, sehat sebagai ciri khas Agung Hercules yang biasa kita lihat di layar kaca begitu saja.

 

Apa itu Tumor Otak Glioblastoma?

Dilansir dari laman American Association of Neurological Surgeon, glioblastoma (atau dikenal juga sebagai glioblastoma multiforme/GBM) adalah tumor otak atau glioma yang berkembang dengan sangat cepat.

Glioblastoma termasuk ke dalam tumor ganas (kanker) stadium 4, dimana sebagian besar sel tumor akan terus bereproduksi dan membelah diri pada waktu tertentu.

Tumor ini terbentuk dari perkembangan abnormal sel otak yang disebut dengan astrosit yang berfungsi menjaga kesehatan sel saraf otak. Itu sebabnya, kanker ganas satu ini juga dikenal sebagai astrositoma stadium 4.

Jenis kanker otak ini dapat menyerang siapa pun, termasuk anak-anak. Namun, umumnya, glioblastoma multiforme terjadi pada orang dewasa.

Glioblastoma biasanya terjadi pada salah satu bagian otak, yang disebut sebagai cerebral hemispheres, tepatnya di lobus frontal dan temporal. Seperti yang dialami Agung Hercules tersebut, Glioblastoma menyerang  bagian otak kirinya. Namun terdapat kemungkinan kanker ini juga bisa terjadi pada bagian otak lainnya.

Glioblastoma dapat menyebar ke bagian otak lain melalui jembatan penghubung bagian otak yang disebut dengan corpus callosum. Meski dapat menyebar ke bagian otak lainnya, kanker ini diketahui sangat jarang untuk menyebar sampai diluar otak.

Secara umum, glioblastoma terdapat dua jenis, yaitu:

  • Primer — tumor diketahui pertama kali muncul sebagai glioblastoma stadium 4
  • Sekunder — tumor otak yang terjadi merupakan perkembangan sel tumor otak dengan stadium yang lebih rendah (astrositoma)

 

Bagaimana Tanda-tandanya?

Seseorang yang memiliki glioblastoma mungkin merasakan beberapa gejala akibat pertumbuhan tumor ini. Tak hanya itu, gejala yang dialami juga bisa berasal dari membengkaknya bagian otak karena adanya cairan di sekitar jaringan tumor (edema).

Gejala yang muncul bisa berbeda-beda, bergantung bagian otak mana yang terserang tumor. Namun, secara umum, glioblastoma memiliki beberapa gejala sebagai berikut:

1.Sakit kepala yang tak kunjung hilang (pada beberapa tipe akan memburuk di waktu pagi)

2.Penglihatan ganda atau kabur

3.Mual dan muntah

4.Kehilangan nafsu makan

5.Perubahan mood dan sifat

6.Penurunan kemampuan berpikir dan belajar

7.Kejang

Apabila tumor ini berkembang hingga mengenai saraf-saraf tertentu, penderitanya juga dapat mengalami beberapa gejala seperti lemas atau perubahan mimik wajah, hilangnya koordinasi, atau bahkan kemampuan mengingat.

Tumor ini juga dapat memengaruhi kemampuan berbahasa apabila berkembang di bagian otak yang memiliki fungsi tersebut. Akibatnya, pasien akan kesulitan dalam berbicara atau memahami pembicaraan.

 

Siapa Saja Yang Berisiko Terserang Glioblastoma Multiforme (GBM)?

Glioblastoma multiforme, sering terjadi kepada orang dewasa, dan kemungkinan kecil menyerang kalangan usia anak-anak.

Tumor ganas stadium 4 ini terjadi pada 3 dari 100.000 orang di Amerika Serikat per tahunnya. Rata-rata, penyakit ini terdiagnosis pada usia 64 tahun dengan persentase pada pria sedikit lebih tinggi dibandingkan wanita.

Meski belum diketahui penyebabnya, terdapat beberapa faktor yang bisa membuat seseorang berisiko terhadap penyakit ini, di antaranya:

  • Usia. Risiko terkena tumor otak akan meningkat seiring dengan usia Anda. Tumor otak lebih umum terjadi pada usia dewasa antara 45-65 tahun.
  • Terpapar radiasi. Orang yang pernah menjalani terapi radiasi/terkenan paparan tinggi radiasi juga berisiko terkena glioblastoma, termasuk jika terapi itu diperuntukkan untuk mengobati sel kanker.
    Pengobatan menggunakan terapi radiasi memang dapat menghancurkan sel kanker. Namun, terapi ini juga dapat menghancurkan sel normal, bahkan memicu pertumbuhan sel kanker.
  • Pekerjaan. Beberapa pekerjaan dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit yang satu ini. Misalnya saja adalah pekerja di pabrik karet sintesis, penyulingan minyak bumi, atau mereka yang sering terpapar vinyl klorida atau pestisida.
  • Riwayat glioma dalam keluarga. Meski glioma (tumor otak) jarang diturunkan dalam keluarga, memiliki anggota keluarga yang pernah menderitanya dapat meningkatkan risiko Anda terkena glioblastoma multiforme.

 

Bisakah Glioblastoma diobati?

Glioblastoma multiforme adalah salah satu kanker otak paling mematikan. Rata-rata, kemampuan bertahan hidup pasien hanya sekitar 15 bulan setelah penyakit ini didiagnosis. Hal ini karena perkembangan dan penyebarannya yang sangat cepat.

Pesatnya pertumbuhan sel kanker otak ini disebabkan oleh astrosit yang sebenarnya adalah sel yang menjaga kesehatan otak. Sel astrosit yang sehat bertugas untuk mengontrol jumlah darah yang mengalirinya.

Itu sebabnya, ketika astrosit ini menjelma menjadi sebuah sel kanker, sel-sel ini tetap memiliki akses terhadap sejumlah pembuluh darah yang justru menjadi “makanan: bagi sel kanker itu.

Meski begitu, bukan berarti tidak terdapat pengobatan bisa dilakukan untuk mengatasi penyakit ini. Beberapa pengobatan yang umum dilakukan untuk meyembuhkan kanker otak ini, antara lain:

 

1.   Operasi

Operasi merupakan prosedur yang paling umum untuk mengangkat sel tumor otak, termasuk glioblastoma. Biasanya, prosedur ini menjadi langkah pertama dalam mengobati kanker.

Apabila sel tumor masih kecil dan mudah dijangkau, akan mudah bagi dokter untuk mengangkat seluruhnya. Namun, ada pula kasus di mana sel kanker otak terlalu besar sehingga akan merusak jaringan sehat atau terletak dekat dengan area sensitif sehingga dapat berisiko bagi pasien.

Dalam kasus tersebut, dokter biasanya akan mengangkat sebisa mungkin, sejauh yang dianggap aman. Walapun tidak dapat mengangkat seluruhnya, prosedur ini mungkin tetap dapat membantu mengurangi gejala yang dirasakan oleh pasien.

Terdapat beberapa jenis operasi yang umum dilakukan, yaitu dengan membuka tempurung kepala atau dengan menggunakan metode endoskopi, yaitu memasukkan alat kecil ke dalam kepala untuk menghilangkan tumor. Cara ini merupakan metode minim invasif.

 

2.   Terapi radiasi

Terapi radiasi merupakan tahap selanjutnya dalam pengobatan glioblastoma. Terapi ini akan membantu menghancurkan DNA sel-sel tumor yang mungkin masih tersisa dari operasi.

Langkah ini bisa memperlambat atau bahkan menghentikan perkembangan penyakit. Meski begitu, terdapat kemungkinan akan ada sel normal yang ikut hancur akibat radiasi.

Beberapa efek samping yang dirasakan karena radiasi di antaranya, kelelahan, rambut rontok, kehilangan nafsu makan, dan masalah kulit. Terapi ini mungkin saja dihentikan apabila pasien mengalami efek samping yang amat parah.

 

3.   Kemoterapi

Kemoterapi juga dilakukan untuk menghancurkan atau bahkan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker, termasuk sel yang tak bisa diangkat saat operasi karena terlalu kecil atau sulit dijangkau.

Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker. Pemberiannya bisa dilakukan secara oral ataupun intravena (infus).

Temolozomide adalah salah satu obat yang disetujui oleh Badan POM Amerika Serikat, FDA, untuk diberikan dalam terapi kemoterapi pasien glioblastoma.

Efek samping yang mungkin dirasakan biasanya bergantung pada jenis dan dosis obat yang diberikan. Namun, beberapa efek samping yang umum biasanya adalah mual dan muntah, sakit kepala, rambut rontok, demam, dan badan lemas.

 

 

Masihkah Ada Harapan Hidup, Bagi Penderita?

Kanker otak tidak dinilai dengan tingkatan atau derajat keparahan. Tumor yang berada dalam otak selalu dianggap berbahaya.

Harapan hidup tiap penderita kanker biasanya dinilai dengan sebuah skala, yaitu lima tahun. Five years survival rate ini adalah angka harapan hidup yang telah ditetapkan secara lazim untuk penderita kanker, termasuk kanker otak.

Artinya, persentase harapan hidup dari pasien kanker otak menggunakan tolak ukur angka lima tahun ini. Meski begitu, bukan berarti pasien yang telah didiagnosis menderita kanker otak tidak bisa hidup lebih dari lima tahun, tapi perlu diakui bahwa persentasenya harapan hidup lebih dari lima tahun untuk pasien kanker otak tidaklah besar.

Besar persentase harapan hidup ini biasanya ditentukan melalui kualitas hidup pasien. Maka dari itu, orang di sekeliling pasien kanker otak harus membantu meningkatkan kualitas hidupnya agar persentase harapan hidupnya meningkat.

Pasalnya, jika daya tahan tubuh pasien kanker otak menurun, ada kemungkinan kanker berkembang semakin ganas. Oleh karena itu, kesehatan pasien kanker otak hanya bisa dibantu untuk dipertahankan pada kondisi terbaiknya.

Selain angka harapan hidup, ada pula faktor risiko yang juga harus Anda perhatikan. Misalnya, pria dan wanita memiliki potensi yang sama besarnya untuk mengalami kondisi ini.

Namun, pria lebih rentan terhadap tumor di dalam otak dibandingkan wanita. Hal ini disebabkan karena gen protein retinoblastoma (RB) diduga kurang aktif pada otak pria. Padahal gen ini sangat bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan sel ganas di dalam otak.

Pertumbuhan sel tumor ganas di dalam otak juga lebih rentan terjadi pada lansia. Sebab, semakin bertambah usia, kemungkinan terjadinya kanker otak juga semakin meningkat. Meski begitu, harus diingat bahwa penyakit ini tergolong penyakit yang mematikan.

Sehingga, bisa dibilang bahwa harapan tertinggi dari hidup pasien kanker otak adalah selama lima tahun. Jadi, saat seseorang telah divonis kanker otak, beserta perubahan yang mereka alami untuk melalui hari-harinya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *