Malas Gerak? Waspada Obesitas!

Hidup di era serba ada dengan segala fasilitas yang tersedia ,tak bisa di pungkiri sangat memanjakan diri kita. Mulai dari makanan , saat ini tak perlu gerakan kaki ke warung atau restoran ketika perut terasa keroncongan,hanya tinggal tekan layar sentuh pada perangkat dan “Grab!” ,bisa kita dapatkan hanya dalam hitungan menit saja.

Apakah ada imbasnya dengan keseharian kita?

Sangat!

Tanpa sadar sebabkan kita mengandalkan media dan fasilitas yang ada,memanjakan diri dengan tidak melakukan aktifitas sebagaimana sebelumnya.

Jika sebelumnya kita harus melangkahkan kaki dan bergerak untuk membeli makanan,saat ini hanya duduk ,dan menunggu makanan sudah bisa kita dapatkan dan nikmati dengan lezatnya. Alhasil, kalori masuk lebih banyak dibandingkan kalori yang digunakan,dan sebabkan alami penumpukan kalori dalam tubuh,hingga kenaikan berat badan mulai sedang hingga jumlah tak terduga.

Kebiasaan tersebut jika kita biarkan dapat menyebabkan kita mengalami obesitas .

Sebelum itu terjadi , mari kenali Obesitas dan simak penjelasanya berikut ini !

Pengertian Obesitas

Kegemukan atau obesitas merupakan penumpukan lemak berlebih didalam tubuh.Penumpukan lemak di dalam tubuh ini jika dibiarkan dapat menimbulkan dampak yang membahayakan tubuh penderita.Bukan hanya mengganggu kondisi kesehatan penderita secara fisik ,namun kondisi psikologis dapat terpengaruh sebagai imbasnya.

Kondisi psikologis seperti stres,dan depresi kerap di alami penderita obesitas.Hal tersebut dapat di sebabkan oleh faktor eksternal yang berasal dari body shaming (ejekan fisik) yang di lontarkan beberapa orang kepada mereka hingga faktor penyebab lainya.

Seseorang dewasa dinyatakan mengalami obesitas, jika indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 25. Perhitungan tersebut didapat dengan membandingkan berat badan dengan tinggi badan.

 

Dengan cara perhitungan sebagai berikut :

IMT = Berat badan / (tinggi badan (m) x tinggi badan (m) )

Dengan kategori berat badan yang tercantum di bawah ini:

  • Di bawah 18,5 = Berat badan kurang
  • 18,5 – 22,9 = Berat badan normal
  • 23 – 29,9 = Berat badan berlebih (kecenderungan obesitas)
  • 30 ke atas = obesitas

Namun, ukuran IMT tersebut dapat tidak akurat untuk beberapa orang, karena IMT tidak mengukur lemak tubuh secara langsung. Jadi konsultasi dengan dokter akan memberikan jawaban lebih tepat.

Gejala

Beberapa gangguan kesehatan  yang timbul terhadap seseorang penderita obesitas :

  • Gangguan pernapasan, seperti sleep apnea dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
  • Tipe kanker tertentu, seperti kanker prostat, usus pada pria, kanker payudara dan kanker rahim pada wanita
  • Penyakit jantung koroner
  • Depresi
  • Diabetes
  • Penyakit hepar atau kelenjar empedu
  • Penyakit Refluks Gastroesofagus (GERD)
  • Tekanan darah tinggi
  • Kolesterol Tinggi
  • Penyakit pada sendi (misal osteoartritis) karena tumpuan tubuh membawa berat badan yang berlebih
  • Stroke.

Orang yang mengalami obesitas dapat mengalami  beberapa gejala kondisi medis tersebut.Semakin gemuk seseorang, semakin besar kemungkinan mereka mengalami gangguan medis yang terkait dengan obesitas.

Dokter akan melakukan pengukuran lainnya seperti mengukur ukuran  pinggang untuk mengevaluasi risiko kesehatan, terkait dengan lemak perut. Ketika IMT dan ukuran pinggang mengindikasikan suatu gangguan kesehatan,maka akan ada pemeriksaan tambahan sesuai saran dokter,seperti pemeriksaan EKG, cek darah untuk mengetahui kadar kolesterol, asam urat, dan sebagainya.

 

Faktor-Faktor Risiko

Berikut beberapa faktor yang bisa jadi penyebab kenaikan berat badan dan obesitas:

  1. Genetik

Faktor genetik merupakan faktor dengan presentasi terbesar yang dapat menyebabkan seseorang obesitas. Jika seseorang dilahirkan dari keluarga yang memiliki berat badan berlebih , akan berpengaruh terhadap kebiasaan makan dan porsi makan yang dikonsumsi setiap harinya . Apalagi jika dibiasakan konsumsi makanan berkalori tinggi seperti kebiasaan orang tua sehari-hari, berpotensi besar untuk membuat seseorang alami obesitas sejak dini.

  1. Junk food

Junk food merupakan jenis makanan dengan kandungan gula, lemak, garam, dan minyak yang tinggi. Kandungan yang tinggi tersebut,membuat seorang pecinta junk food tanpa sadar alami penumpukan lemak dan kolesterol tinggi dalam tubuh mereka yang dipastikan berpotensi sebabkan obesitas apabila mengonsumsi dengan intensitas tak terbatas.

  1. Stres

Ketika seseorang mengalami gangguan mood , atau stres tidak sedikit dari mereka melampiaskan kesedihan pada makanan. Makanan manis biasanya menjadi pelarian utama yang sering dijadikan sasaran ketika seseorang alami kesedihan pada dirinya. Alih-alih memperbaiki suasana hati ,hingga tanpa disadari melebihi batas wajar sehingga alami penumpukan kalori .

  1. Malas gerak
  2. Tidak cukup tidur

Penelitian telah menemukan bahwa jika seseorang tidak cukup tidur, seseorang tersebut berisiko dua kali lipat alami obesitas. Kurang tidur dapat menyebabkan obesitas melalui peningkatan nafsu makan akibat dari perubahan hormonal. Jika Anda tidak cukup tidur, tubuh akan menghasilkan Ghrelin,yaitu hormon yang merangsang nafsu makan. Kurang tidur juga mengakibatkan tubuh memproduksi lebih sedikit Leptin (hormon yang menekan nafsu makan).Ketika nafsu makan meningkat maka keinginan seseorang untuk makan dengan porsi yang lebih banyak pun muncul,sehingga sangat berpengaruh terhadap berapa banyak makanan yang di konsumsi.

Penanganan Obesitas

Penanganan obesitas dapat dilakukan melalui program penurunan berat badan yang melibatkan dokter gizi, dokter endokrin, atau psikiater. Program tersebut memiliki target awal penurunan berat badan yang aman, atau sekitar 3-5 persen dari total berat badan. Dalam program ini, penderita disarankan mengubah pola makan dan pola aktivitas fisik. Kendati demikian, perubahan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan secara keseluruhan, serta tingkat obesitas yang dialami penderita.

Program penurunan berat badan meliputi:

  • Perubahan pola makan. Perubahan ini bertujuan mengurangi asupan kalori dan menjalankan kebiasaan makan yang lebih sehat. Dalam mengurangi asupan kalori, penderita disarankan mengurangi asupan energi sebanyak 600 kalori setiap hari. Asupan kalori harian yang dianjurkan pada wanita adalah sebanyak 1400 kalori, sedangkan pada pria adalah 1900 kalori. Cara terbaik menjalankannya adalah dengan mengganti makanan atau minuman tinggi kalori dengan pilihan makanan yang mengandung banyak serat, seperti sayur dan buah, serta menghindari makanan dengan kadar garam dan gula yang tinggi, atau makanan atau minuman dengan tambahan pemanis buatan.
  • Peningkatan aktivitas fisik. Di samping penurunan asupan kalori, peningkatan aktivitas fisik yang membakar energi juga dapat mempertahankan penurunan berat badan yang aman. Selain itu, peningkatan aktivitas fisik juga dapat memberi banyak keuntungan dari segi kesehatan, seperti menurunkan risiko diabetes tipe 2. Peningkatan ini dilakukan dengan cara berolahraga secara teratur, setidaknya selama 150 menit tiap minggu, untuk mencegah penambahan berat badan dan mempertahankan penurunan berat badan yang aman. Guna menurunkan berat secara signifikan, maka disarankan berolahraga setidaknya selama 300 menit tiap minggu. Peningkatan ini sebaiknya dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan peningkatan kebugaran dan ketahanan fisik Jenis olahraga yang dapat dilakukan, antara lain jalan cepat, jogging, berlari, bersepeda, atau berenang. Selain berolahraga, peningkatan aktivitas fisik juga bisa diperoleh dengan melakukan aktivitas yang lebih membakar kalori dalam kegiatan sehari-hari. Contohnya adalah bila berpergian dengan jarak yang tidak terlalu jauh, lebih memilih berjalan dibanding naik kendaraan.
  • Perubahan perilaku. Upaya ini bisa dilakukan dengan mengikuti psikoterapi atau support group untuk mengubah pola pikir dan mengatasi masalah emosi atau perilaku yang terkait dengan konsumsi makanan.

Jika perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik belum berhasil menurunkan berat badan, dokter dapat membantu dengan meresepkan obat penurun berat badan. Namun, obat tersebut baru diberikan jika nilai IMT melebihi 30 atau penderita mengalami penyakit penyerta, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, atau sleep apnea. Obat yang biasa diresepkan adalah orlistat dan liraglutide.

Sebelum memberikan obat, dokter akan mempertimbangkan riwayat medis dan efek samping yang dapat ditimbulkan. Selama mengonsumsi obat, dokter akan memantau dan mengawasi kondisi pasien.

Tindakan lain yang bisa dilakukan dokter untuk mengatasi penderita obesitas adalah operasi yang berfungsi untuk menurunkan berat badan atau dikenal sebagai operasi bariatrik. Operasi ini akan membuat perubahan dalam sistem pencernaan, sehingga membatasi asupan makanan, sehingga menurunkan penyerapan kalori. Operasi bariatrik baru dapat dilaksanakan jika penderita sudah menjalani metode penurunan berat badan namun tidak berhasil, serta mengalami obesitas ekstrim dengan nilai IMT di atas 40, atau nilai IMT di atas 35 dengan penyakit penyerta, misalnya hipertensi  atau diabetes.

Operasi bariatrik yang dapat dilakukan meliputi:

  • Bypass lambung. Dalam operasi ini, dokter bedah akan membuat kantong kecil di atas lambung dan terhubung langsung dengan usus halus. Aliran makanan dan minuman akan masuk ke kantong tersebut untuk menuju usus halus, dan tidak melewati lambung.
  • Laparoscopic adjustable gastric banding. Dalam operasi ini, lambung akan diikat untuk menahan perluasan lambung.
  • Biliopancreatic diversion with duodenal switch. Dalam prosedur ini, sebagian lambung akan diangkat, dan ujung lambung akan dipotong serta langsung disambungkan dengan bagian akhir usus halus. Bagian usus halus yang terpotong akan disambungkan kembali agar empedu dan enzim pencernaan tetap mengalir.
  • Gastric sleeve. Dalam operasi ini, dokter bedah akan mengangkat sebagian lambung, sehingga membuat lambung menjadi lebih kecil untuk menyimpan makanan.

Seluruh program penurunan berat badan membutuhkan waktu dan komitmen yang kuat dari penderita agar dapat menyelesaikannya dengan baik. Selain itu, pemantauan secara teratur terhadap tujuan penurunan berat badan perlu dilakukan, baik oleh penderita maupun dokter dan keluarga, agar program ini dapat berjalan dengan stabil. Dengan demikian, risiko komplikasi penyakit yang terkait obesitas dapat berkurang.

Jadi,

Sayangi tubuh kita dengan memperhatikan apa dan berapa apapun yang kita konsumsi mulai dari hal paling sederhana. Rasa tidak perduli dan acuh terhadap diri sendiri mulai dari hal paling kecil merupakan awal dari rasa tidak cinta terhadap diri sendiri,ketika itu terjadi maka akan timbul sebuah kebiasaan buruk yang dapat membahayakan tubuh kita bukan hanya secara fisik tapi juga sebaliknya.

 

Mari Hidup sehat Mulai Sekarang!  

Tidak ada yang lebih baik bagi siapa yang memulai kecuali diri anda sendiri! 🙂

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *